Pages

Sabtu, 12 November 2011

Secercah harapan

I can't promise you
that dark clouds
will never hover
over our lives
or that the future
will bring us many rainbows.
I can't promise you
that tomorrow
will be perfect
or that life will be easy.
I can promise you
my everlasting devotion,
my loyalty,
my respect,
and my unconditional
love for a lifetime.
I can promise that
I'll always
be there for you,
to listen
and to hold your hand,
and I'll always do
my best to make you happy,
and make you feel loved.
I can promise that
I'll see you through
any crisis,
and hope with you,
dream with you,
build with you,
and always cheer you on
and encourage you.
I can promise that
I'll share my dreams
my world,
and every aspect
of my life with you.
I'll willingly be
your protector,
your advisor,
your counselor,
your friend,
your family,
your everything.
And I believe that's
what love is truly
all about.




Selasa, 08 November 2011

What I do want

6 November 2011, Hari Raya Idul Adha, hari bersejarah untuk kaum muslim dan pantas untuk dirayakan bahkan sudah seyogyanya hal itu memang harus dilakukan, jika mampu bersedekahlah dengan membeli kambing atau sapi untuk dikorbankan. sama sebagai menyisihkan sebagian hartanya untuk orang yang berhak menerima. tapi apa dengan saya... itu tidak saya lakukan!!!, mengapa? dan ini rasanya malu untuk saya menjawabnya. rasanya saya ingin sekali melakukan hal itu yaitu untuk berkorban,,, tapi sayang saya tidak mampu untuk terbuka terhadap semua orang karena ini sangat pribadi, bila diceritakan sama dengan membuka aib sendiri, tapi yang jelas saya ingin sekali melakukan hal itu tapi saya ga ada uang, karena bertepatan dengan idul adha saya terpuruk dalam ekonomi, semoga niat ini akan dikabulkan diwaktu yang berbeda pada event yang sama pada tahun2 mendatang. saya berniat jika saya mampu saya niat untuk melakukan hal itu,

Sabtu, 16 Juli 2011

Penerjemah

<div id="google_translate_element"></div><script>
function googleTranslateElementInit() {
  new google.translate.TranslateElement({
    pageLanguage: 'en'
  }, 'google_translate_element');
}
</script><script src="http://translate.google.com/translate_a/element.js?cb=googleTranslateElementInit"></script>

Selasa, 07 Juni 2011

CERDAS DARI MEDIA & CERDAS BERMEDIA

Harmonis
Saat ini orang-orang yang memiliki kecerdasan majemuk tak terelakkan memiliki akses terhadap media. Mereka membaca buku atau koran, mendengarkan radio, menonton televisi, atau media massa lainnya. Namun, tidak ada jaminan bahwa menjadi cerdas juga memiliki kecerdasan bermedia (media literacy).
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa kemudahan bagi siapa pun memelajari ilmu dan pengetahuan dari media massa. Media seperti perpustakaan yang koleksi bacaannya dan visualnya dapat dibawa pulang ke rumah. Tak heran jika kita dapat membangun kecerdasan lewat akses terhadap media. Misalnya, seorang anak yang belum masuk sekolah di Jakarta dapat menguasai bahasa Inggris tanpa diketahui orangtuanya! Selidik punya selidik, sang anak yang istimewa ini sering menonton film Barat di televisi. Ia cerdas berkat televisi.

Sabtu, 21 Mei 2011

Bicara dengan Banyak Jeda Lebih Persuasif







INILAH.COM, Michigan - Studi baru menemukan fakta, orang yang berbicara dengan jeda dan tidak terlalu cepat, adalah orang yang kata-katanya paling mungkin berhasil meyakinkan pendengarnya.

Jose Benki memiliki ketertarikan meneliti pidato dan dunia psikolinguistik. Ilmuwan dari University of Michigan ini mengatakan, orang yang kecepatan bicaranya sekitar 3,5 kata per detik, akan lebih berkemungkinan disetujui pendengarnya daripada orang yang berbicara lebih cepat atau lebih lambat.

Benki meneliti 1.380 hasil rekaman telepon yang dilakukan oleh 100 orang yang meminta orang lain berpartisipasi dalam sebuah survei. Hasil rekaman itu lalu dianalisis kelancaran dan kedalaman suaranya, dan korelasi kedua variabel itu terhadap kemampuan partisipan dalam meyakinkan orang lain.

Hasilnya, pria yang suaranya tinggi cenderung lebih rendah kemampuan persuasinya dibandingkan pria bersuara lebih dalam. Tapi kedalaman suara tidak menunjukkan pengaruh signifikan bagi perempuan.

Para peneliti juga memeriksa penggunaan jeda dalam berbicara. Mereka menemukan, orang yang bicara dengan menerapkan jeda-jeda pendek yang lebih sering, akan cenderung lebih mampu mempersuasi orang lain ketimbang orang yang bicaranya terlalu lancar.

“Penggunaan jeda yang dimaksud adalah sekitar 4-5 kali per menit,” ungkap Benki.

Pewawancara tidak membuat jeda sama sekali, adalah yang paling rendah tingkat persetujuannya. Namun orang yang bicara dengan terlalu banyak jeda, walaupun dianggap gagap, mereka justru memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi daripada orang yang bicaranya terlalu lancar. [mor]